PES 2018 Review 

Buah evolusi, bukan revolusi.

PES 2018 kini sudah hadir, antusiasme dan optimisme selalu muncul ketika seri PES terbaru rilis. Entah berapa banyak wishlist dari para pemain PES yang berharap wishlistnya dikabulkan. Mulai dari yang masuk akal sampe yang gak masuk akal.

PES 2018 gak diragukan lagi peningkatan dari seri PES 2017, banyak yang baru dan berubah (meski gak drastis) dari PES 2017. Makanya PES 2018 lebih cocok disebut sebuah evolusi ketimbang revolusi.

Yah, revolusi biasanya emang sangat drastik, pilihannya 2, melejit atau gagal. Seperti ketika lompatan dari PES 2013 ke PES 2014, itu adalah revolusi, namun hasilnya gagal.

Belajar dari PES 2014, mulai dari PES 2015 selama 4 tahun sampai PES 2018 ini adalah buah dari evolusi tahun ke tahun.

Setiap tahun terasa gak banyak berubah seri PES ini, tambah ini sedikit tambah itu sedikit, ubah ini, ubah itu, terasa sama. PES 2018 adalah buah evolusi dari 4 tahun belakangan.

Hasilnya, PES 2018 sangat kuat di basis gameplaynya. Bagi yang sudah main dari PES 2014 hingga kini, pasti merasakan banyak hal baik dari seri PES yang dipertahankan.

Jika bro lebih banyak main FIFA ketimbang seri PES, maka jelas “switch” mindset pas main agak susah. Perbedaan feeling itulah yang membuat ada istilah “cocok-cocokan gameplay”.

Gameplay

Fitur yang berhubungan dengan gameplay dilapangan yang terasa banget bedanya adalah fitur RealTouch+. Pemain di lapangan sangat aware dengan posisi bola. Pemain juga mengerti bagaimana harus bergerak ketika dia menerima atau berada di dekat bola.

Pemain menggunakan seluruh anggota badan untuk mengontrol bola sesuai dengan kondisi yang dihadapi, maka stats ball control dan balance menjadi kunci untuk menangani bola yang diterima. Baik itu bola liar maupun hasil umpan teman.

Makin banyaknya tabungan gerakan yang dimiliki oleh PES menjadikan PES 2018 ini pemain bergerak dengan halus.

Posisi badan yang gak sempurna menghasilkan passing yang cenderung akan melenceng, tendangan yang “melepes” kalau kata orang Jawa bilang.

Namun demikian, meskipun dalam posisi canggung, respon stik ke pemain tetep responsive. Sehingga kalau kita maksain pemain yang dalam posisi canggung untuk passing atau shooting maka ya itu tadi hasilnya maksain.

Jadi ujar-ujar “posisi menentukan prestasi” itu emang beneran kalau di PES 2018.

Stats ball control jadi kunci, pemain yang ball control nya tinggi akan punya keuntungan lebih dalam mengolah bola di PES 2018. Makin tinggi stats ball controlnya makin bisa mengontrol bola yang datang ke arahnya.

Panduan stats ability PES

Selain itu perbedaan besar dalam hal dribel adalah, tubuh bagian atas menjadi poin penting untuk menipu pemain. Istilah populernya body feint. Halusnya animasi gerakan di PES 2018 membuat kita bisa mengeluarkan feint dengan kombo yang sesuai dengan imajinasi dan kemampuan kita membetot joystik. Tentunya balik lagi sih ke kemampuan dribel dan balance si pemain itu sendiri.

Kecepatan gameplay di PES 2018 untuk yang standar di angka 0, agak lambat si terasanya. Jadi bener-bener nguras imajinasi untuk bongkar pertahanan lawan, lari pemain gak terlalu kebut soalnya. Level kecepatan 1 menurut pribadi si udah paling pas.

Bicara soal mencetak gol, di PES 2018 ini lawan Superstar mencetak gol jelas bukan perkara mudah. Jadi pas berhasil mencetak gol rasanya rewarding banget. Terasa hasil usahanya.

Kiper di PES 2018 jelas banyak banget peningkatan dari seri sebelumnya, makanya itu makin jago kiper-kiper di PES 2018 ini. Gerakan terbangnya makin kaya superman, kiper juga makin cepet reaksinya untuk melakukan dobel save.

Sulit menaklukan kiper di PES 2018 dengan tendangan keras. Kiper PES 2018 justru suka malah gagap menangani bola lemah, efeknya bola lepas atau salah timing jatuh.

Namun sejelek-jeleknya kelemahan kiper itu, gak sampe bikin PES 2018 jadi jatuh nilainya. Paling kadang keki aja misal kebobolan karena kekonyolan kiper.

Mode Permainan

Secara umum gak banyak tambahan mode permainan di PES 2018, Brothers tetep bisa main sendirian atau berdua atau malah berempat dengan temen(kalau punya temen dan ada joystiknya). Mode UCL, ACL, Europe League masih ada, masih lisensi.

Master League dan BAL juga masih sama, gak banyak perubahan. Paling kalau pun ada yang berbeda, ada sedikit berbeda di sistem transfer di ML.

Mode permainan paling fresh jatuh ke Random Selection Match. Mode ini sebenernya udah pernah ada, dulu banget, ketika masih jaman PS2 atau PS gitu. Intinya kita mendapatkan tim berisikan pemain random.

Mode Random Selection Match memberikan banyak kejutan, Jadi kita gak tau bakalan berisi siapa aja tim kita, seru banget, udah kaya tebak-tebakan. Kalau pas lagi hoki bisa dapet yang isinya CR atau Messi, tapi kalau memble ya sebaliknya. Btw pasti ada pemain bintangnya ko, gak akan kroco semua dapatnya.

Random Selection Match cocok banget buat yang suka bosen atau bingung pake tim apa kalau main bareng temen atau komputer. Soalnya kita dituntut jago baca stat pemain yang kita miliki dan menentukan strategi apa yang tepat dengan pemain random tersebut. Kemampuan adaptasi strategi jelas diuji banget.

Mode online co-op juga jadi mode yang seru, main bareng dengan komputer atau temen dalam satu tim. Mode ini pernah diujikan di PES 2018 Online Beta. Pembahasan komplitnya sudah dibahas juga.

PES Online Beta review

Intinya Bro main bertiga dalam 1 tim, pemian yang dikendalikan gak fix, jadi kursor pindah dari satu pemain ke pemain lain. Cocok buat nguji, diri kita egois apa enggak. Hehe

MyClub tetap hadir, namun sekali lagi myClub ini sebenarnya keren. Namun sangat bergantung pada kemampuan server si KONAMI yang masih sampai saat ini dari hasil ujinya, masih aja BLE’E.

Kondisi sulit menemukan lawan secara online masih aja dijumpai di mode ini, sehingga sebelum mendalami lebih lanjut mode ini orang udah keburu males duluan.

Become a Legend jadi mode yang gak banyak berubah dan masih gitu-gitu aja. Cenderung stagnan. Kalah jauh dengan My Journey garapan FIFA. Sayang banget, dulu BAL ini lebih dulu ada ketimbang my Journey, sekarang BAL hanya akan ada dibawah bayang-bayang my Journey kalau KONAMI gak melakukan apa-apa.

Grafis dan Suara

User interface PES 2018 gak berubah sama sekali dari PES 2017, hanya gambar thumbnail nya aja yang diganti. Asli males banget. Gak kelihatan usaha KONAMI untuk mengoverhaul gamenya, memang gak ngaruh banyak, namun game jadi kelihatan kaya gak ada kemajuannya.

Poin plus dari grafik di PES 2018 adalah tambahan Tattoo untuk lebih banyak pemain. Jika dulu di PES 2016 dan 2017 praktis hanya Neymar aja yang udah punya tatto, kini makin banyak pemain yang sudah berttatto. Pemain dari klub eksklusif seperti Barcelona dan Dortmund memiliki tatonya masing-masing.

Tato paling notable jelas Messi, semenjak dia bertato semua game bola berlomba memastikan dia bertato juga. Selama ini PES malu-malu menutupi lengannya dengan inner sleeve, namun kini sudah gak lagi. Ke depannya kemungkinan besar pemain dari Liverpool atau Inter akan kedapatan tato juga, mengingat dua klub ini merupakan partner ekslusif PES 2018.

Wajah pemain banyak mendapatkan update. PES gak selalu menggunakan 3D face scan namun wajah di PES boleh dibilang bisa diadu dengan FIFA yang notabene banyak menggunakan metode 3D face scan. Namun sayangnya, masih banyak juga pemain dengan face yang sama dan menggunakan data face PES 2015, kelihatan timpang jika disandingkan, salah stau yang paling kelihatannya Bro bisa cek wajahnya Iker Casillas. Kasihan.

Grafis di lapangan makin keren, dengan tambahan detail tunnel yang makin keren. Terutama di stadion yang berlisensi seperti Nou Camp dan Anfield.

KONAMI dengan grafik kerennya ini sayangnya suka alpa kalau bicara atmosfer. Atmosfer pertandingan masih gak banyak berubah, dan gak ramai.

Suasana bench masih diisi oleh orang-orangan generik. Pelatih pinggir lapangan masih sama persis dari seri sebelumnya, hanya mondar-mandir sambil sedekap. Banner pinggir lapangan juga gak banyak berubah dari PES 2015.  Kekurangan hal-hal ini menjadikan PES 2018 kurang ekspresif. Printilan macam ini memang KONAMI kurang peduli, sehingga banyak potensi yang gak kegarap di bagian ini. 

Grafik PES 2018 masih sama dengan sebelumnya, kece parah. KONAMI sendiri justru yang menyia-nyiakan potensi FOX Engine, kalau aja yang printilan ini digarap bisa jadi kelebihan utama PES selain gameplay yang memang udah “nendang” banget.

Sisi lain yang masih belum digarap maksimal adalah sisi sound. Komentator masih sama dari PES 2017, di versi Inggris Jim Beglin dan Peter Drury masih jadi pengisi suara. Kata-kata khas Jim Beglin masih ada, dan masih itu-itu aja. Mungkin ada penambahan kosakata, tapi jujur dari sisi komentator masih terasa sama.

Jika Brothers sudah main PES dari PES 2013 mungkin udah hafal banget kombinasi kalimat-kalimat si Jim Beglin ini. 

Untungnya musik soundtrack di PES 2018 pilihannya keren-keren, dan memang udah dari PES 2016 sejatinya soundtrack udah oke-oke. Deretan soundtrack dari artis ternama macam John Legend, Linkin Park, Bruno Mars, hingga Clean Bandit menjadi salah satu pengisi. Kekurangannya cuma satu, kurang banyaaak. Jumlah lagu yang hanya mencapai belasan ini menjadikan PES 2018 cepat bosan didengar setelah 3-4 bulan main.

Tambahan lagu sebagai konten datapack harusnya bisa pilihan, sehingga telinga gak bosen diperdengarkan lagu yang itu-itu aja.

Nasib PES Player di PC

Bertahun-tahun disepelekan, kini PES hadir di PC dengan kualitas setara(bahkan lebih) konsol next-gen(PS4/One). Gak lagi dikasih porting abal-abal untuk PS3. Grafis PES 2018 PC se-ciamik PS4, bahkan bisa disetting hingga 8K. Alig.

PC User yang dianak-tirikan

Kompensasinya jelas gak murah. Kualitas grafis harus ditebus dengan spek minimum yang lumayan tinggi. Banyak PC user yang speknya ngangkat, yap, ngangkat tangan. Gak kuat menangani grafis PES 2018. Kebutuhan minimal RAM nya aja 8GB, belum VRAM yang mengharuskan support directx12 dan Vertex Shader 5.0 membuat PES gak lagi ramah dengan low spek PC/Laptop. PES kini bukan lagi game dengan spek “merakyat”. 

Low spek PC/Laptop memang walaupun bisa masuk ke dalam game, tentu fps yang mentok dibawah 15 fps bukan gambaran ideal pas main. Patah-patah. Akhirnya memilih stay di PES 2017. Gapapa, ModEvo17 untuk Windows akan terus diupdate kok, menemani Bro yang belum kuat main PES 2018. 

Akhir Kata

PES 2018 tetap game sepakbola yang baik, penulis reviewer game dari berbagai situs game juga sepakat dengan kenyataan tersebut. Bagi yang mau pindah haluan dari FIFA ke PES mungkin akan terasa kaget dan mengeluhkan masalah Lisensi. Lisensi sejatinya bukan masalah berarti jika dilengkapi dengan patch, sekali import semua beres. ModEvo18 siap menangani hal tersebut. Itu juga lisensi gak jadi bahasan di review PES 2018. 

Bro yang belum sempet beli PES 2018 untuk PS4 nya juga bisa ko merasakan sensasi musim baru dengan ModEvo17 untuk PS4 yang udah apdet hingga musim 2017/2018.

Bagi penggemar PES, jelas PES 2018 ini bakal menemani hari-harinya hingga PES 2019 mengetuk pintu rumahnya. 

Akhir kata, sekali lagi game bagus juga gak selalu jadi pemenang dalam pertarungan bisnis. Melawan FIFA 18 di tahun ini juga masih akan jadi tantangan berat bagi KONAMI.

Cheers

NB: Beberapa Screenshot di review ini sudah menggunakan ModEvo18 v1. 

ModEvo #PlayBetter

PES 2018 Review: Buah Evolusi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *