Tahun ini KONAMI memberi sedikit kejutan dengan melempar versi beta nya terlebih dahulu. Well, versi Beta ini bukan DEMO ya. Online Beta sengaja dilempar oleh KONAMI untuk menguji kekuatan server mereka dalam menjalankan online match.

Online Beta dapat diunduh oleh pengguna PS4 dan Xbox One dari tanggal 20 Juli s/d 31 Agustus. 

Ente PC user Bro? Please jangan nanya… Konami selalu ketakutan jika melempar gamenya sebelum rilis ke PC baik itu dalam bentuk Demo.

Sejak PES 2013 Konami gak pernah melempar Demonya sebelum game full versionnya rilis. Konami  masih trauma game demo mereka diunlock oleh cracker dan patcher, kejadian ini terjadi di PES 2012.

Online Beta menggunakan early code build dari PES 2018, dan hanya dilempar untuk menguji kekuatan server mereka. Nah inilah poinnya, user(kita) mana peduli itu early code atau final code, begitu bisa didownload ya didownload, gak ada urusan sama urusan teknis begitu. Pasti kita akan menjudge BAGAIMANA gamenya dimainkan, bukan mikirin koneksinya.

Di sini humas Konami masih aja mengharapkan kita mengerti kalau yang dilempar itu untuk menguji KEKUATAN servernya, bukan gamenya. Informasi untuk itu pun sangat sedikit dijelaskan, akun twitter dan gamenya sendiri gak menjelaskan secara jelas bahwa Online Beta ini dikeluarkan untuk menguji kekuatan servernya.

Bolak-balik Adam Bhatti lagi yang menjelaskannya di akun twitter pribadinya, yap, di akun twitter pribadinya. Permainan humas yang masih aja belum cantik dari Konami.

Oke, balik ke Online Beta nya

Selesai download 5komaan GB dari PS Store, gak perlu akun PSN untuk coba atau download. Setelah masuk akan disambut penjelasan singkat, terms and condition yang gak perlu dibaca, skip, skip.

Menu utama masih hampir sama persis dengan PES 2017. Nothing new.

Desain loading themenya mirip banget sama FIFA 15. Menu interface hanya 1 sisi, gak ada menu apa-apaan, hanya online match. Pilihannya hanya 3v3 atau 2v2 dan 1v1. Gak ada lawan COM, jikapun ada hanya di 3vCOM, jadi tetep harus online. Intinya sama sekali gak ada opsi main jika gak ada koneksi internet.

Sebagai catatan aja: Dalam pengujian digunakan internet Fastnet.

Bicara mode. Ada Casual match 3v3, mennandakan bahwa kita bertiga lawan tiga orang dalam 1 pertandingan. Sehingga dalam praktiknya secara random kita akan berpasangan dengan 2 orang lainnya yang gak kita kenal.

Jadi totally bener-bener gak tau temen kita dalam 3v3 ini jago atau malah bapuk. Btw jika bapuk mainnya juga bisa karena koneksinya jelek ya, jadi kalau temennya lari-lari random ada kemungkinan dia kena kendala lag.

Begitu juga lawan kita, sama-sama buta deh intinya. Namun justru disini asiknya, masing-masing dari kita dituntut bisa main secara tim. Berbagi tugas dalam menyerang dan bertahan.

Paling susah sih ketika bertahan, seringkali semua pemain jadi mengejar 1 lawan, akhirnya banyak pemain yang out of position dan meninggalkan celah besar di pertahanan.

Setiap pergerakan dan apapun yang kita kerjakan di lapangan aka nada nilainya, jadi nanti di akhir babak akan kelihatan siapa yang main secara tim mana yang mainnya asal-asalan atau egois. Disinilah serunya, jago bukan lagi sekadar bisa menang lawan musuh, namun jago juga bisa diartikan Bro bisa mian secara tim dan gak egois.

Dalam prakteknya, pemain yang dikendalikan fleksibel, artinya 1 pemain tidak terikat dengan 1 pemain di lapangan. Bebas aja, kita bisa mengganti pemain dengan L1 layaknya main sendiri.

Namun jika pemain yang satu sudah dipegang oleh rekan kita maka kita gak bisa mengendalikan yang sedang dipegang oleh rekan kita.

Inilah tantangannya, jika bertemu dengan rekan yang suka pindah-pindah pemain dan lari-larian maka bentuk formasi bakal kacau dan banyak lubang yang terbuka. Namun serunya, musuh juga gak segampang itu memanfaatkan karena sama-sama ribet mengatur posisi serangnya. Asyik kan Bro.

Mode co-operation (co-op) 3v3 memberi dimensi baru dalam bermain. Ranking co-op ini akan tercatat, sehingga track recordnya akan jelas seperti apa kita main kalau dimode co-op.

Mode 2v2 mirip dengan 3v3 hanya aja timnya hanya terdiri dari 2 orang, bukan 3 orang.

Mode 1v1 jelas sama halnya kaya kita main dengan teman, gak ada beda. Tinggal mengatur settingan ketika matchmaking.

Fitur dalam Online Beta

Dalam PES 2018 Online Beta hanya menyediakan 2 tim aja, yaitu timnas Brasil dan timnas Prancis. Semuanya hadir dengan kit asli dan full 23 skuad terbaru. Seluruh face pemainnya sudah menggunakan real face, dan beberapa diantaranya sangat luar biasa miripnya.

Namun karena hanya 2 tim itu, beberapa kali main lama-lama bosan juga ketemu dia lagi dia lagi.

Stadion yang disediakan hanya 1, Neu Sonne stadium, Stadium fiktif. Gak ada yang spesial dari stadion ini, atmosfer juga secukupnya aja. Untuk cuaca disediakan fine dan rainy, setting waktu masih saja terbatas di siang dan malam. Orang Konami pasti belum baca artikel ini nih.

Grafis paling beda di PES 2018 ini menurut saya adalah player modelnya, pemain lebih ramping dan lebih atletis, bentuk lengan dan betis terasa lebih kecil, namun justru malah terlihat lebih nyata ketimbang bentuk tubuh pemain di PES 2017 atau PES 2016.

Gameplay Online Beta (Belum final)

Nah inilah bagian yang penting namun gak penting dibahas di Online Beta ini.

Konami menekankan bahwa code untuk Online Beta ini adalah code game lama mereka, atau Bahasa gampangnya Online Beta ini gameplaynya belum Final dengan PES 2018 nanti yang akan dirilis. Jadi bahasan kali ini sangat mungkin akan berubah di final product nya nanti.

Okelah, secara umum gameplay meningkat cukup pesat bahkan di early code ini. Mulai dari passing, passing akan sangat berpengaruh outputnya tergantung bagaimana posisi pemain dan arah passing.

Posisi yang berlawanan dengan arah passing akan membuat passing menjadi lebih lemah dan kurang akurat. Animasi passing makin banyak, sehingga passing dalam posisi terjepit lebih banyak varian gerakannya.

Passing lambung atau crossing juga demikian, posisi tubuh dengan arah passing sangat berpengaruh pada output passingnya. Jadi gak ada lagi tuh passing memaksakan diri dari posisi sulit.

Shooting juga berlaku hal yang sama. Jika pas impaknya, maka hasilnya akan sangat terasa dan mantep. Namun jika posisi pemain gak menguntungkan hasilnya bola akan terasa “melepes”, maaf ya pakai Bahasa yang mungkin gak semuanya bisa merasakan maknanya.

Tendangan voli dan tendangan jarak jauh boleh dibilang masih overpowered, alias kekencengan. Ini juga banyak dikeluhkan oleh pengguna lain di akun sosial media.

Paling terasa dan berbeda itu fitur body shield, sekarang pemain secara aktif melindungi bola ketika menerima passing atau mencoba mempertahankan bola ketika sedang dribel atau stationary(diam). Pemain lawan juga akan mencoba beradu badan bagian atas, sehingga jika body balance nya gak besar akan mudah kalah duel ketika beradu.

Dribel dan olah bola gak cukup banyak berubah dari PES 2017, masih responsif. Dribel pemain layaknya Neymar juga masih dalam batas wajar. Jago dan licin, namun masih bisa dihentikan dengan timing tekel yang tepat.

Kiper banyak mendapatkan tambahan animasi baru mulai dari menepis sampai cara melempar. Banyaknya animasi baru untuk kiper juga membuat gerakan save menjadi lebih nampak “wow” dan keren. Kiper reaktif dan menurut saya si cukup balance, gak overpowered gak juga underpowered. Sesuai lah dengan kenyataan.

Kekuatan Server Konami

Masuk ke bagian paling krusial dari layanan online sebuah game. Kualitas koneksi ketika bermain. Kualitas koneksi server sangat ngaruh ke permainan, ngelag barang beberapa milisecon aja mempengaruhi respon dari joystick ke pemain di lapangan.

Btw, bicara soal server, gak melulu soal kecepatan internet kita di rumah. Bukan berarti jika koneksi kita cepat pasti bebas lag pas main online. Gak begitu, tergantung juga seberapa kuat server gamenya menangani banyaknya putaran data yang masuk.

Sepengalaman saya di PES dari tahun 2013 sampai 2017, boleh dibilang servernya Konami ya begitu-begitu aja, gak memuaskan. Terlebih di Indonesia, jika dibandingkan dengan FIFA, dari segi kecepatan masih jauh lebih stabil.

Konami sadar diri sebenarnya, mereka gak punya server sekuat FIFA. Makanya di PES 2018 ini mereka menguji dulu kekuatan onlinenya sebelum rilis ke pasaran.

Sebelum bermain seperti biasa game PES online Beta ini akan menguji koneksi dulu, sekitar 3 menit. Setelah masuk menu, maka kita memilih matchmaking.

Proses matchmaking, alias mencari lawan atau kawan (jika main 3v3), adalah bagian yang paling lama dan gak enak. Sepengalaman saya di Online Beta ini, ketika mencari lawan 1v1 justru lebih lama ketimbang ketika mencari kawan dan lawan 3v3.

Cukup aneh, karena dari complain yang ditelusur di media sosial justru biasanya orang akan lebih lama menunggu di mode 3v3, masuk akal, karena kita menunggu 5 orang lain masuk. Sedangkan di 1v1 hanya tinggal menunggu seorang lawan aja.

Namun anomalinya di saya, saya justru lebih lama menunggu ketika 1v1.

Dalam matchmaking 1v1 saya biasanya menunggu hampir 5-10 menit untuk sekali main, padahal mainnya sendiri waktunya sudah diset 10 menit, gak bisa lebih. Jadi boros di waktu tunggunya aja.

Sedangkan dalam matchmaking 3v3 justru dalam waktu 3-4 menit saya sudah siap main. Lebih cepat, akhirnya mode 3v3 jadi mode yang paling saya mainkan dan uji coba.

Dan ketika mencari setting online, karena pikir mungkin ada yang salah namun gak ada opsi apa apa di Online Settingnya kecuali memilih port untuk onlinenya.

Secara umum ketika bermain jarang saya mendapati lag, namun sekalinya sedang lag, game menjadi sangat gak responsive dan hampir gak bisa dimainkan. Jika 2-3 match lag, biasanya saya menyerah dan mencoba main di waktu yang lain.

Edit Mode yang tersembunyi

Online Mode ini menyimpan menu edit mode dalam posisi yang agak tersembunyi, tepatnya di area setting avatar. Di dalamnya kita bisa mengedit wajah avatar kita, well dari face build yang disediakan, terlihat, gak jauh beda atau malah sama persis dengan PES 2017.

Pilihan rambut masih sama, itu-itu aja. Jenggot yang disediakan juga belum 3D, masih tipis, jadi gak bisa bikin karakter ala-ala jenggot Teuku Wisnu.

Padahal saya mengharapkan lebih, supaya apa, supaya pemain yang gak memiliki real face scan juga bisa mendekati kualitas face scan yang memang sangat mirip. Semoga ini subjek yang bisa berubah pas nanti PES 2018 rilis.

Final marks

Secara keseluruhan, peluncuran Online Beta ini menjadi bentuk itikad baik dari Konami untuk membenahi gamenya. PES 2018 jelas sangat layak dinantikan, apalagi banyak fitur baru di seri ini. Bisa lihat di 25 fitur terbaru PES 2018 yang layak Bro lihat.

Akhir kata, PES 2018 Online Beta ini hanya akan berlaku hingga tanggal 31 Juli. Setelahnya layanan ini akan diberhentikan dan (mungkin) pada medio Agustus kita akan bisa mulai mencoba Demo PES 2018. Sambil nungguin PES 2018 yang masih lumayan lama, bisa kali main PES 2017 dengan ModEvo17 v4 yang udah apdet untuk musim 2017/2018. Asooy.

PES 2018 Online Beta Review: Itikad Baik dari KONAMI untuk PES User

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *