Musim baru sepakbola Eropa seakan jadi penanda bahwa game sepakbola tahunan macam FIFA atau PES akan kembali rilis. Momen rilis yang umumnya hanya berjarak 1-2 bulan dari dimulainya liga Eropa menjadi penanda semarak dimulainya musim baru. Seakan sudah menjadi tradisi, musim baru, game bola baru.

PES 2018 rilis per tanggal 15 September 2017 sudah menjadi bagian dari tradisi tersebut. Pun demikian, kita sebagai pemain bola (digital) selalu turut menunggu kehadiran game bola yang akan dirlis. Fitur baru, roster baru, gameplay baru, mode baru selalu menjadi hal yang dinanti setiap tahunnya.

Hal yang sama juga (masih) terjadi di tahun ini.

Yup, sebelum merilis gamenya secara penuh, KONAMI memberikan terlebih dahulu PES 2018 DEMO untuk pertimbangan Bro sekalian apakah PES 2018 layak buat nemenin Bro untuk setahun ke depan.

Demo untuk PES 2018 ini dapat Bro coba juga di platform PS4, PS3, One, dan 360. Demo dapat diunduh melalui store di masing-masing konsol. Untuk PC biasanya DEMO baru akan diberikan setelah tanggal rilis.

Review ini berbasis pada PES 2018 DEMO di PS4. Secara umum akan membahas mulai dari gameplay hingga grafis secara umum.

PES 2018 Demo memberikan mode eksibisi dan mode co-op, mode co-op dimainkan bersamaan dengan PC karena belum ada dukungan online untuk main berenam.

Mode eksibisi kita bisa bebas memilih waktu permainan mulai dari 3 menit sampai 30 menit. Ada cukup banyak klub yang ditawarkan di DEMO ini, demngan roster sampai bulan Mei kemarin. Para decul masih bisa nostalgia dan mengenang enaknya pake Barcelona dengan Neymar dan Dortmund masih menyediakan Dembele di line up nya. Lumayan.

Gameplay

Gameplay dari tahun ke tahun memang menjadi bagian yang paling diandalkan oleh KONAMI. PES selalu berusaha menghadirkan game sepakbola yang kuat unsur simulasinya, terutama di lapangan. Formula ini terus digunakan dari tahun ke tahun, gameplay gak boleh kalah dari game sebelah.

PES 2018 bagi Bro yang sudah mulai biasa main di PES 2017 akan mendapati PES 2018 ini terasa lebih lambat pergerakannya. Lebih lambat pergerakannya namun respon joystick ke lapangan tetep responsive dan cepet ko. Hanya saja feeling ketika pemain berlari gak secepet di PES 2017.

Lambat tapi gak berat, itu poinnya. Beda dengan PES 2014 yang ya lambat ya telat responnya, enggak ko, tetep enak.

Perubahan tempo menjadikan pemain lebih banyak diuji ketika bangun serangan. Untuk mendorong bola ke depan dan mendapatkan peluang lebih terasa memutar otak. Pergerakan pemain tanpa bola menyesuaikan dengan skill attack awareness pemain, makin tinggi makin baik pergerakannya. Begitu juga pemain ketika melakukan defens.

Ada beberapa advanced strategy baru yang layak dicoba, menambah alternatif dalam usaha membongkar pertahanan lawan.

PES 2018 memberikan perbedaan perasaan bermain, kadang ada saatnya sulit banget cetak gol, tapi kadang juga bisa dapet golnya agak terasa gampang. Jika dirangkum ada beberapa cara golin yang bisa dieksploitasi, ini harusnya bisa diseimbangkan.

Placing shot R2+kotak udah gak terlalu mematikan lagi, karena respon kiper untuk bola bawah makin baik. Justru penggunaan bola chip (L1+kotak) memberikan persentasi kemungkinan masuk lebih tinggi, hampir 90% ke atas, karena kiper bereaksi agak aneh pas mendapati bola chip. Kiper cenderung jatuh dengan tangan menggapai ke atas alih-alih dia lompat, mengingat bola chip gak terlalu kencang.

Tendangan first time dari luar kotak penalty masih sering overpowered dan sering sekali menghasilkan dipping shot yang hampir gak bisa dihalau oleh kiper. Padahal yang shooting ya bukan pemain yang terlalu mantep juga, dalam kasus ini yang kami coba, Paulinho dan Khedira.

Satu lagi yang bisa diekspoilitir penggunaanya adalah umpan trobosan lambung(L1+segitiga). Ini menjadi cara paling efektif untuk mengirimkan bola lambung ke depan, tinggi banget persentasi suksesnya.

Defens menjadi hal paling sulit ketika harus berhadapan dengan master dribel macam Neymar, Messi atau Reus. Defender mudah sekali kehilangan momentum ketika tekel berdiri (standing tackle). Momentum tekan X ketika defens menjadi kunci besar ketika dribel.

Beberapa poin di atas adalah celah yang bisa dieksploitir oleh banyak pemain. Tentu ini bikin permainan jadi monoton dan gak menyenangkan.

Sisi positif dari gameplay di PES 2018 ini adalah makin banyaknya momen unpredictable ketika main.

Sebabnya adalah makin banyaknya annimasi tambahan. Banyak banget tambahan gerakan baru di PES 2018 ini. Mulai dari animasi dribel, passing, shooting, adu badan, tekel, sampai ke gerakan kiper. Makin banyaknya bank data animasi gerakan membuat permainan jadi makin fluid, setiap gerakan jadi ada maknanya. Salah satu langkah aja menentukan bola akan diambil siapa.

Bisa jadi ketika adu bola, pemain yang di awal posisinya kurang menguntungkan malah berbalik jadi keuntungan dalam kasus-kasus tertentu.

Efeknya nurun ke gameplay, gameplay jadi lebih unpredictable dan banyak sekali momen-momen ketika bermain yang bisa dimanfaatkan karena ke-natural-annya ini.

Grafis

Melihat grafisnya pertama kali jika dibandingkan dengan cutscene yang beredar memang boleh dibilang agak dibawah ekspektasi. Namun bisa dimaklumi juga, TV yang digunakan reviewer memang belum support resolusi 1080p. Sehingga detil teksturnya gak keluar semua potensinya.

Kondisi akan berubah jika dimainkan di PS4 Pro + 4K TV. Baru gambarnya akan aluuus.

Suguhan grafis PES 2018 gak terlalu banyak berubah dari PES 2017. Cutscene, tampilan stadion, rumput, penonton boleh dibilang nyaris sama (jika gak bisa dibilang sama), hampir gak ada perubahan.

Sisi paling kelihatan untuk grafis ada pada body build pemain, pemain sekarang Nampak lebih ramping dan kurus. Lebih mirip dengan body build pemain pada umumnya, ketimbang di PES 2017 yang kelihatan agak lebih bulky.

Ekspresif

Sisi grafis  yang menonjol di PES 2018 adalah ekspresi wajah. Wajah pemain ketika cutscene atau replay, asli, ekspresif banget. Jauh lebih ekspresif dari PES-PES sebelumnya. Raut wajah pemain jadi lebih kelihatan jelas. Reaksi pemain ketika menanggapi permainan juga lebih emosional.

Raut ketika dilanggar dan kesakitan jauh lebih manusiawi, tatapan matanya boleh lah belum manusiawi dan masih robotik, tapi untuk ekspresi bibir dan gurat wajah udah oke banget.

Gak hanya raut wajah yang meningkat jauh. Gestur tubuh juga lebih emosional, ketika habis mencetak gol spektakuler pemain akan terasa emosi kegirangannya.

Namun memang fitur keren ini baru akan kelihatan jelas kalau kita masuk mode replay atau cutscene. Ketika kamera main si gak akan kelihatan wajahnya, paling hanya gestur yang Nampak.

Sayangnya poin bagus tadi jadi gak lengkap, karena secara umum banyak yang gak berubah dari PES 2018 dari sisi grafis.

Stadion yang ditampilkan di demo hanya Camp Nou dan Signal Iduna Park, keren sih, detail lorong dan pencahayaan keren layaknya yang sudah biasa kita lihat di foto atau di televisi. Namun jujur pemandangan tersebut kurang “hidup”, atmosfer nya datar banget.

Passion penonton dan ramainya banner di sisi lapangan sama persis dari PES 2015 ke PES 2018, gak ada perubahan berarti.

 

Jujur saya mengharapkan lebih di PES 2018 ini, seperti misalnya, pemandangan di sisi lapangan. Bench masih di isi oleh 3D model generic, bukan diisi oleh real player layaknya di FIFA. FIFA sendiri mulai memasukkan bench dengan pemain asli dari FIFA 15, PES masih aja masang 3D model generic.

Pelatih di pinggir lapangan juga masih sama, gak ada perubahan. Hanya berdiri memaku sambil berkacak pinggang atau sesekali berjalan. Gak ekspresiiif, sayang banget.

Padahal harusnya bisa mengambil (misalnya) Klopp, kan lisensi dapat tuh. Tau sendiri kan gayanya kaya apa Oom Jurgen Klopp kalau klubnya ngegolin atau kehilangan peluang.

Memang hal-hal yang udah disebutin di atas itu adalah “kosmetik” dan gak banyak ngaruh ke gameplay. Namun justru di zaman sekarang yang kosmetiknya kece seringkali  jadi pemenang. Sama kaya wanita lah, wanita yang gak terlalu cakep kalau make-up nya bagus bisa jadi kaya model kelas dunia, tapi wanita cakep kalau gak didandani tetep aja ada yang kurang kalau disandingkan dengan wanita biasa saja bermake up. Analoginya kan kurang lebih begitu.

Final Words

PES 2018 gak berjarak jutaan tahun cahaya dari PES 2017 yang memang sudah bagus. Perbedaan feeling dalam gameplay lebih mendekatkan PES 2018 ke kenyataan. Gameplay sekali lagi menjadi kekuatan utama dari PES. Masih banyak yang bisa ditingkatkan jelas, tapi secara umum sudah mantep banget. Yap, Pitch is remain ours, lapangan masih tetap milik PES.

Namun, sisi kosmetik seperti user interface, tampilan cutscene, dan atmosfer jelas masih banyak pe er untuk tim Konami. Perhatian pada detil mungkin sesuatu yang perlu perhatian lebih.

PES memang bukan game yang banyak gimmick dan basa basi. PES tahu cara bikin game bola yang gameplay nya mendekati kenyataan, tapi PES memang gak(belum) bisa mereplikasi pertandingan sepakbola yang kita lihat di layer kaca layaknya FIFA.

Minim lisensi, atmosfer yang masih gitu-gitu aja dari PES 2015 harusnya menjadi catatan tersendiri buat KONAMI berbenah. Karena bukan apa-apa, kebanyakan orang lebih menyukai tampilan presentasi yang keren ketimbang gameplay itu sendiri.

Jelas ini masih review PES 2018 DEMO, tentu masih banyak yang bisa PES berikan di versi fullnya. Mode permainan, online experience, sound, adalah hal-hal yang belum bisa dinilai dari DEMO ini, pun begitu juga sisi gameplay dan grafis, masih bisa mengalami perubahan di versi full nya.

Buat Bro yang emang nyari game bola yang mereplikasi permainan, jelas PES jawabannya. Tapi ya harus sadar PES harus ad ape er tambahan untuk melengkapi lisensi klub nantinya, tapi tenang aja sih, yang begitu-begitu urusannya kami. Tunggu aja ModEvo18 dari tim kami. Belum kenal ModEvo? Cek Sini yuk

 

Cheers.

PES 2018 DEMO Review: Ketika “Pitch is (Remains) Ours”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *