FIFA vs PES. Mana yang terbaik? Siapa pemenangnya?

DEAR PES, MENANG DI LAPANGAN AJA GAK CUKUP

Dunia nyata itu memang kejam, seringkali yang terbaik bukanlah selalu yang menjadi juara.

Dalam persaingan apapun, pemenang gak selalu yang terhebat.

Demikian juga pertarungan game sejagad, sepakbola, yang diisi dua pemain besar PES garapan PES Production dibawah Konami, dan FIFA gawean EA Sports. Pertarungan dua seri ini udah lebih dari 20 tahun (dulu PES lebih dikenal dengan Winning Eleven), dan masing-masing punya waktunya sendiri untuk berjaya.

Fase awal persaingan sekitar medio 1995-2000, belum terlalu meruncing dan keduanya masih boleh dibilang sama kuat. Selain itu pada medio ini masih banyak juga game sepakbola sekelas garapan developer lain, salah satunya yang mungkin Bro pernah denger, Actua Soccer, Club Football, Ronaldo V-Football, atau malah Super Shot Soccer.

Grafis kaya gini aja dulu udah seneng banget

Era PlayStation 1 boleh dibilang masih banyak developer yang garap game sepakbola.

Namun memasuki era PlayStation 2, atau sekitar 2001-2006, seri PES atau WE sangat menguasai pasar pada saat itu. FIFA boleh dibilang culun dan gak dilirik. Puncaknya adalah PES 6 atau WE 10 yang dirilis tahun 2006 dianggap sebagai game sepakbola terbaik sepanjang masa.

Lisensi FIFA dulu sempat gak laku

Bahkan sampai sekarang PES 6 ini masih ada patch terbaru untuk musim 2016/2017. Artinya PES 6 masih tetap hidup dan dimainkan walau sudah 1 dekade lewat. Banyak player PES yang gak bisa move on dari PES 6.

Legenda.

PES 6 pangkat sekian yang masih update musim 2016/2017

Memasuki era PS3 inilah jadi masa kuburan bagi seri PES. Kompetitor lain selain Konami boleh dibilang gak ada lagi yang bikin game sepakbola. Praktis hanya EA dan Konami yang masih bikin game sepakbola.

Sepinya persaingan memudahkan jalan EA menguasai pasar dengan kekuatan lisensi yang dia miliki. Sedangkan Konami kesulitan mengadaptasi engine PS3, ujung-ujungnya game yang dihasilkan gak seciamik jaman PS1 dan PS2. Praktis hanya PES 2013 seri PES yang cukup digemari.

Kegagalan terbesar Konami lainnya adalah gagal transisi dari engine lawas ke engine baru. Tahun 2013 Konami menggunakan FOX engine untuk memasuki next gen, namun fatal, PES 2014 dicap sebagai game PES terburuk sepanjang masa, yang mungkin Bro disini juga masih inget betapa gak karuannya itu game.

PES 2014…

Di sisi lain, FIFA makin menancapkan dominasinya ketika PES gagal mengakomodir teknologi next gen.

Sinar terang sejatinya mulai menghampiri PES di era PS4, kehadiran seri PES 2015, PES 2016 hingga terakhir PES 2017 mulai kembali diapresiasi oleh banyak orang. Banyak review game yang bilang di seri PES 2016 dengan jargon “King is Back”.

Memang betul, dari segi gameplay, PES 2015 hingga PES 2017 banyak mendapatkan review bagus dari berbagai review game. Salah satunya IGN. Berturut-turut PES mendapatkan angka 9, 9.5, 9.5 untuk game PES 2015 hingga PES 2017. Seperti review IGN soal PES 2017.

Sedangkan FIFA diberi rating oleh IGN dari FIFA 15 hingga FIFA 17 berturut-turut 8.3, 7.8, dan 8.4. Lebih lengkap bisa dicek di review FIFA17 oleh IGN.

Terlihat bahwasanya PES lebih unggul dari FIFA jika bicara review, ingat, yang memberikan review adalah mereka yang memang reviewer game professional.

Namun kembali lagi, dunia itu kejam, yang terbaik tidak selalu jadi pemenang.

Dan, dari itu semua, kenyataan yang paling gila adalah:

Penjualan game FIFA17 16(ENAMBELAS) kali lipat lebih banyak dari PES 2017.  IYA, 16x lipat.

Gila gak tuh. Dari segi bisnis, ini namanya rugi besar dan kekalahan telak!

Mungkin bos-bos Konami di Jepang sana malah gak peduli mau PES dapat rating berapa di review-review game, sales do matter kalau bagi mereka.

Iyalah, itu dagangannya mereka.

Jika di jembreng lebih detail soal penjualan.

PES hanya laku 680 ribu kopi di seluruh dunia, di sisi lain FIFA laku 10,9 Juta kopi. Sumber

Dengan kisaran harga jual game original seharga $50 maka PES meraih pendapatan kotor sekitar 34 juta dolar. FIFA menghasilkan pendapatkan kotor lebih kurang $500 juta. 

Jauh banget Bro.

Umumnya. biaya pembuatan game berkisar antara 10-30 juta dolar, lebih dari itu biasanya game-game FPS atau sandbox macam GTA V. Sebagai gambaran, GTA V laku 21 juta kopi atau setara 1 milyar dolar dengan biaya produksi sekitar 250 juta dolar.

Dengan asumsi di atas, maka PES hanya mendapatkan keuntungan bersih paliing besar-besarnya gak nyampe 15 juta dolar. Iya, oke itu banyak, tapi ga ada apa-apanya dengan hasil yang didapat FIFA.

Jika di breakdown lebih dalam. Eropa adalah kunci memenangkan pertarungan game sepakbola. FIFA menjual lebih dari 7,9 juta kopi sedangkan PES hanya mampu menjual 300ribuan kopi di Eropa.

PES malah kelihatannya sibuk nggarap pasar Amerika latin dan Asia dengan mengejar lisensi Libertadores, Argentina, Brazil dan Asia Champions League.

Padahal region ini sejatinya hanya menyumbangkan gak lebih dari 80ribu kopi.

Jangan tanya gamer INDONESIA nyumbang berapa yak. Wkwkw. Bisa dibayangkan lah.

Satu-satunya tempat yang bisa dimenangkan PES dalam sisi penjualan adalah tanah air mereka, yak, Jepang. Di Jepang PES (sedikit) lebih laku dari FIFA dengan rasio 160 ribu kopi berbanding 120 ribu kopi.

PES juga jeblok penjualan salah satunya mengandalkan penjualan di PS4, seperti distribusi penjualan PES berikut ini. 

Dalam dunia bisnis, konsepnya jelas, makin banyak uang dikeluarkan maka makin besar pula kekuatan menarik uang.

Makin kuat medan magnet uangnya, maka makin besar uang yang akan “ngikut”.  EA membayar sangat besar untuk lisensi dan pengembangan infrastruktur online mereka, namun di sisi lain Konami juga gak mau bertaruh untuk mengeluarkan lebih banyak uang untuk biaya produksi PES.

Memang masuk akal sih, Konami sendiri kondisi keuangannya gak bagus dan gak sesehat EA. Praktis hanya seri PES aja yang jadi produk unggulan Konami di game, sedangkan Metal Gear Solid(MGS) yang banyak memberikan keuntungan malah Konami memutus kerjasamanya dengan Kojima Production (developer yang bikin MGS).

Nah disinilah kontradiksinya

FIFA tetap menjadi game sepakbola paling populer di dunia, saat ini khususnya, meskipun bukanlah game sepakbola terbaik.

Ingat, tim yang bermain cantik atau terhebat tidaklah selalu menjadi pemenang dalam kejuaraan.

Lalu Kenapa FIFA menjadi game yang lebih popular ketimbang PES?

Jika Bro penasaran akan jawaban tersebut, tetaplah di sini. Inilah analisis terlengkap dan terdalam kenapa FIFA bisa menjadi game sepakbola paling popular sekarang.

(SPOILER ALERT) Siapkan secangkir kopi atau malah mungkin dua cangkir, karena bahasan ini akan sangaat panjang.

LISENSI, LISENSI, dan LISENSI

Iyap, hal yang paling mudah kita katakan adalah: PES selalu kalah lisensi.

Ujaran-ujaran seperti:

“Di PES 2017 masa gak ada Real Madrid, Juventus, Bayern!”

“Ko ga ada Bundesliganya?”

“Ini EPL ngaco semua timnya”

“Konyol banget, masa ada Champions League tapi 2 tim finalis UCL 2017 nama di gamenya MD White sama Black and White”

Nah itulah, Konami punya lisensi UCL, tapi gak punya lisensi Real Madrid dan Juventus.

Balik dulu ke apa itu “lisensi”.

Lisensi itu hak untuk memasang nama, logo, penampilan asli dari suatu pemegang lisensi. Which is dalam dunia sepakbola adalah lisensi klub, pemain, liga, kejuaraan, dan badan.

Dan dalam dunia game sepakbola, lisensi ini memang urusan yang runyam. Ruwet dan ribet, asli. Sifatnya administratif, mengatur legalitas, mengatur apa yang boleh ditampilin apa yang gak boleh ditampilin. Lisensi berurusan dengan kekayaan orang, jika sudah bicara kekayaan maka pasti ada urusan hukum jika melanggar.

Lisensi juga sifatnya ada yang cukup meminta izin, ada juga yang harus membayar sejumlah uang untuk mendapatkan lisensi tersebut.

Nah disinilah kekuatan uang EA bermain, mereka berani menginvestasikan dana besar untuk membeli lisensi-lisensi liga dan klub. Gak hanya itu, mereka juga membeli lisensi FIFA (Badan sepakbola bukan nama game) untuk mendapatkan hak menggunakan nama “FIFA” sebagai nama game mereka.

Bagaimana dengan lisensi klub dan liga? Sama aja. PES memang kalah telak di sini. FIFA17 memegang 697 klub dari 35 liga atau divisi, dengan beberapa timnas dan timnas wanita.

Liga Inggris menjadi representasi terbaik dengan tersedianya klub dari 4 tingkat kasta, mulai dari Premie League sampai dengan EFL League Two.

Di FIFA 17 minimal ada 16000an pemain terlisensi.

Sedangkan, PES hanya ada 16 liga dan beberapa timnas, itu pun yang lisensi gak sampe setengahnya.

Dari total 360an team yang ada di PES 2017, hanya sekitar 40% nya yang dimiliki oleh PES, sisanya menggunakan samaran macam MAN RED, MAN BLUE, MD WHITE, PM BLACK WHITE.

Premier League di PES 2017 hanya ada 2 klub lisensi, sisanya jadi nama-nama gak jelas. La Liga juga sama aja, hanya 2 klub. Sisanya, nama samaran juga.

Pemain juga nasibnya sama, di PES ada sekitar 13000 pemain, namun catat hampir lebih dari setengah dari daftar ini adalah unlicensed player, alias pemain gak jelas asal usulnya. Namanya gak terkenal, fake player. Sulit kan.

Sulitnya, banyak lisensi yang ekslusif.

Artinya satu lisensi gak bisa dimiliki oleh lebih dari 1 bidang yang sama. Misalnya. Lisensi Premier League untuk video game hanya bisa dimiliki oleh SATU perusahaan, dan karena EA(bergerak di bidang video game) sudah punya lisensi Premier League maka Konami(sama-sama bergerak di bidang video game) gak bisa menyentuh lisensi Premier League.

Jalannya adalah, beli lisensi klub Premier League secara individu. Konami beli lisensi Liverpool dan Arsenal untuk PES 2017, namun cara ini jauh lebih mahal jika Konami beli lisensi klub satu-satu daripada beli lisensi 1 liga.

Strategi lain, Konami beli lisensi UEFA untuk hak menampilkan UCL dan UEL. Lumayan. Namun jeleknya hanya lisensi liga nya saja yang didapat, sedangkan klub-klub yang berlaga di UCL dan UEL tetap gak dapat lisensinya.

Makanya pas UCL Final kemarin, praktis tweet @officialpes hanya berkisar mengenai pesleague, padahal harusnya inilah momentum mereka ngetweet. Tapi Karena terbentur lisensi, satu-satunya tweet mereka soal UCL final hanya ini.

Menyedihkan

Itulah.

PES benar-benar di K.O di sisi lisensi. Dari sisi lisensi ini akhirnya banyak faktor yang mengikuti dan menjadi alasan kenapa FIFA lebih populer.

MENANG “NAMA”

FIFA juga bisa jadi lebih populer karena dia memegang nama “FIFA”. Iya nama FIFA itu terasosiasi banget dengan sepakbola. Beda dengan Pro Evolution Soccer, “Soccer” adalah kata yang jarang digunakan di Eropa, mereka menyebut sepakbola dengan Football, bukan Soccer. Soccer adalah istilah Inggris Amerika untuk membedakan dengan American Football.

Winning Eleven juga sami mawon, asosiasi dengan sepakbolanya hanya di kata “eleven” nya, yang menandakan kemenangan sebelas pemain. Kata “sebelas” merujuk pada jumlah pemain sepakbola. Asosiasi yang lumayan jauh.

Apa perlu Pro Evolution Soccer ganti nama menjadi Pro Evolution Football ? 

Dari sini aja udah keliatan kalau FIFA udah menang “nama”.

Sialnya EA ini sudah lengket banget dengan FIFA. Sama halnya kaya Adidas dengan FIFA, udah mesraaaa banget. Apalagi kerjasama bareng FIFA udah dari 1993  sampai sekarang, kabarnya di tahun ini kontrak EA dengan FIFA diperpanjang sampe 2022.

Ngarepin hubungan EA dan FIFA putus sama kaya ngarepin cewek idaman yang Bro kejer sekarang putus sama cowoknya.  Hubungan antara mereka udah cocok banget, Konami makin gak bakalan bisa nikung.

ASPEK PSIKOLOGIS.

Banyaknya lisensi menjadikan FIFA banyak mengambil keuntungan. Salah satunya adalah, banyak orang membeli FIFA karena di dalamnya ada klub lokal kebanggannya.

Bayangkan dari 35 liga yang tersedia di FIFA, di antaranya ada dari negara seperti Swedia, Irlandia, Polandia, Rusia, Korea Selatan, Arab Saudi, dan negara-negara Amerika dan Amerika Latin lainnya.

Pernah Bro dengar klub Ross County? Gefle IF? Korona Kielce? Mungkin boleh jadi gak pernah dengar sama sekali dan gak tau dari negara apa klub itu.

Tapi fans dari klub-klub tersebut pasti ada. Mereka bisa jadi membeli FIFA karena ingin memainkan klub dari kota atau klub lokal yang mereka bela.

Nah inilah faktor psikologis, dimana orang akan membeli sesuatu hal yang terasosiasi dengan dirinya.

Big match antara Yeovil Town vs Luton Town

Berapa banyak klub di Eropa yang timnya ada di FIFA, gak heran jika penjualan FIFA di Eropa sangat bagus. Bahkan di Inggris jadi salah satu sumber penjualan tertinggi mereka, tentu ada korelasinya dengan adanya klub Inggris hingga kasta ke empat di FIFA.

Misalnya, andai di FIFA atau PES ada klub Indonesia macam Persib, Persija, Arema, dan lain sebagainya apa Bro jadi gak lebih tertarik untuk beli gamenya? Meskipun mahal misalnya.

Tapi tentu untuk sementara Liga Indonesia jangan ngarep masuk FIFA atau PES secara resmi kali ya, selama angka pembajakan di Indonesia masih tinggi. Mungkin nanti.

STADION TERBATAS

Makin berantakan lagi jika bicara stadion. Memang stadion juga ada lisensinya, gak bisa sembarang memasukkan stadion ke dalam game.

FIFA menyediakan lebih dari 70 stadion dan 50 diantara stadion asli (lisensi). Banyaknya ragam pilihan stadion mulai dari stadion kelas kambing untuk home klub divisi empat Inggris sampai ke bintang lima macam Santiago Bernabeu dan Allianz Arena.

Sisi lain PES malah hanya menyediakan 17 stadium dan 14 diantaranya terlisensi itupun dengan menyebut San Siro dan Giuseppe Meazza secara terpisah. Semua juga tahu San Siro dan Giuseppe Meazza adalah stadion yang sama.

Konami juga gak berusaha menutupinya dengan menambah stadion generic, macam Konami Stadium dan sebagainya.

Padahal jika mau diusahakan, masih bisa menambah belasan stadion generic yang artinya memberikan tambahan variasi buat pemain.

RAJIN UPDATE

EA juga unggul salah satunya sebabnya adalah kekuatan Sumber daya manusia(SDM) yang banyak. Sehingga Urusan update-update seperti transfer dan stats hampir diupdate tiap minggu, dan ini rata ke seluruh klub yang ada di FIFA, yang jumlahnya 600an lebih.

PES memang, mulai seri PES 2016 mulai mengeluarkan update berupa liveupdate yang dirilis tiap minggu. Namun coverage yang diupdate hanya mencakup liga Eropa aja.

Selain itu EA juga cepat dalam mengupdate aksesoris pemain yang baru rilis, terutama sepatu.

Nike Pack Update: Hypervenom seri terbaru (spring pack)

Setiap kali ada seri Nike atau Adidas yang baru, mereka biasanya jaauh lebih cepet updatenya ketimbang PES. PES biasanya baru update setelah 3 bulan pasca rilisnya sepatu-sepatu baru tersebut.

Bagusnya PES ketika memberikan datapack, memang lama, namun seringkali konten yang diberikan memang banyak seperti update face, bola, atau stadion. Namun ya itu, lama keluarnya…

JAGO BIKIN TRAILER

EA seperti yang kita tahu, berasal dari Amerika. Amerika adalah negara hiburan, artinya jika mau menguasai pasar hiburan, entah itu music, film, atau game maka pasar Amerika harus bisa direbut.

Hampir semua hiburan berkiblat ke negeri Paman Sam, sebut aja, Hollywood, Oscar(Film), Billboard, Grammy(musik), Comic Con (Komik), E3 (Game), semua adalah produk Amerika dan semuanya adalah kiblat industrinya masing-masing.

Gak heran kalau disana industri hiburannya jago banget garap konten hiburan nan memikat.

Game juga begitu. EA sebagai salah satu developer dari Amerika paham banget bagaimana bikin trailer yang bagus. Coba kita perhatiin, umumnya video trailer FIFA itu biasanya dramatis, keren, pop-art, dan bener-bener menonjol.

Misalnya, EA menunjuk Pele sebagai narrator di trailernya, pamer selebrasi-selebrasi baru, aksi gol-gol yang memukau, nunjukkin lisensi yang mereka punya dengan cara yang keren, heboh banget dan Hollywood-isque nya nampak.

Parameternya jelas video trailer FIFA di youtube selalu berhasil menarik viewer hingga jutaan. Minimal, secara umum mencapai diatas 5 juta kali ditonton.

Bagaimana dengan PES. PES selalu ketinggalan dalam hal ini, trailer PES biasanya walaupun keren, tapi tetep kelihatan monoton.

PES lebih banyak menampilkan gameplay trailer, sebenarnya ini bagus untuk melihat seperti apa gameplaynya. Memang inilah contoh kebudayaan Jepang yang dimana mengedepankan unsur simpel dan gak banyak gaya.

Namun untuk keperluan trailer orang akan lebih tertarik menonton sesuatu yang bisa buat dia terpukau. Makanya PES jika merilis trailer biasanya hanya berkisar antara ratusan ribu sampai 2 jutaan penonton. Jarang ada video PES yang ditonton lebih dari angka segitu.

Ada baiknya juga tim marketing PES belajar untuk membuat trailer yang berpotensi viral, sehingga ditonton lebih banyak orang. Ujung-ujungnya orang akan lebih tertarik untuk beli produknya.

SELEBRASI ITU PENTING

Bagi EA ikutin apa yang lagi tren itu hukumnya FARDU AIN alias WAJIB. Mereka gak akan pernah ketinggalan memasukkan selebrasi apa yang lagi tren di dunia nyata ke seri game FIFA terbaru mereka.

Rooney selebrasi K.O ya bikin selebrasi K.O Rooney, Pogba doyan nge DAB ya bikin nge DAB, Griezmann gaya di reject aja alias Hotline Bling langsung masuk ke seri barunya.

Terakhir untuk seri FIFA 18 mereka udah pamer selebrasi Ronaldo “thinking” pose, Matuidi Charo dan Dybala Mask. Itu memang hal kecil, namun potensi viralnya gede banget.

FIFA juga paling pertama yang memberikan fitur kebebasan pemain untuk memilih bagaimana mereka selebrasi ketika mencetak gol.

Setiap selebrasi gol memiliki tombol khususnya masing-masing yang bisa dihapalkan, pasti sering jengkel kalau liat temen main FIFA kalau cetak gol dia selebrasi aneh-aneh.

PES, ya tahu sendiri, Hotline Bling aja baru muncul di PES 2018, padahal FIFA udah ada dari FIFA 17. Mungkin yang paling bisa dibanggakan dari selebrasi gol di PES adalah, catat, SATU-SATUNYA selebrasi yang bisa buka baju.

Yap, sepanjang yang saya tahu, selebrasi pemain buka baju hanya pernah ada di PES. Itu pun hanya SATU pemain dalam game yang bisa melakukannya, siapa lagi bukan Neymar.

Aah, ketebak kan.

Enggak, enggak, fitur Shirtless Celebration jangan harap ada di FIFA, apalagi di mode Women National Teamnya. Dasar pervert!

ATMOSFER HIDUP

EPL benar-benar mendapatkan representasi yang sangat detail di FIFA. Mulai dari adboard, scoreboard, komentator, bola, badge, press con, dan lain sebagainya bener-bener seperti nonton EPL di TV. EA pintar mengolah lisensi yang dia miliki menjadi sajian yang menarik.

Chants yang autentik, kehadiran pelatih real di pinggir lapangan, suasana bench yang hidup, dan adanya pemain yang melakukan pemanasan di pinggir lapangan menjadi nilai tambah bagi FIFA yang gak dimiliki oleh PES.

Adegan-adegan wasit menyemprot vanishing spray juga turut serta menambah kemiripan atmosfer pertandingan.

Banyaknya pilihan cuaca mulai dari panas, hingga salju juga memberikan sentuhan atmosfer yang bermacam-macam. Pertandingan bisa disesuaikan dari jam 10 pagi sampai jam 12 malam.

Istilah kata, jika Bro mau nyewa lapangan buat main, bisa booking dengan pilihan waktu yang panjang. Beda dengan PES yang hanya nyedian siang dan malam, udah, gak bisa pilih mau main di sore hari.

MARKETING YANG LEBIH STRATEGIS

EA Sports memainkan pemasaran mereka lebih efektif di sosial media. Sosial media EA Sports baik di twitter maupun instagram jauh mengungguli akun Sosial medianya PES.

Sebagai gambaran:

@easportsfifa

Twitter = 4.8 M

Instagram = 10. M

@officialpes

Twitter = 273 K

Instagram = 62.8 K

Gak tahu deh apakah akun FIFA beli follower? Entahlah.

Tapi, sepanjang pengamatan sih gak ada yang komen-komen spam pembesar payudara di kolom komennya akun instagramnya FIFA.

Jelasnya, akun sosmed FIFA memang lebih hidup dan interaktif ketimbang akun sosmednya PES.

PES juga seringkali terlalu mengandalkan brand manager dia sebagai humas di sosial media. Siapa lagi kalau bukan Adam Bhatti, penggemar PES pasti paham siapa dia. Dia adalah PES Global Product & Brand Manager.

Setahu saya, dia dulunya adalah penggerak forum PES yang kemudian ditarik oleh Konami untuk menjadi Regional Community Leader, dan kini naik jadi Brand Manager.

Marketing perlu strategi dan ilmu, jujur, saya gak tahu apakah mas Adam ini punya background di  bidang marketing atau enggak. Seberapa dalam kapasitasnya jadi sulit untuk mengukur, namun yang pasti akun twitter Adam Bhatti jauh lebih mirip akun sosmednya PES ketimbang akun PES itu sendiri.

Seharusnya referensi informasi tentang PES tetap diberikan via akun PES itu sendiri. Strategi PES di sosial media makin ironis, ketika melihat akun PES Indonesia (akun komunitas PES terbesar di Indonesia) memiliki lebih banyak follower baik twitter dan instagram ketimbang akun officialpes itu sendiri!!

GAME ITU BUAT DIMAINKAN

EA sadar, mereka bikin game itu untuk dimainkan. Mereka fokus membuat game yang siap saji, tinggal main. EA mau pembeli mereka disibukkan dengan main gamenya, bukan sibuk utak atik hal-hal diluar gamenya.

Kondisi lain dialami oleh PES, pembeli PES banyak yang gak mau diribetkan oleh urusan ngepatch. Ngedit ini itu, ganti baju, ganti logo, ganti nama klub dan laaiiin sebagainya hanya untuk sekadar mulai main.

Siapa sih yang betah main PES dengan nama klub yang gak asli? Siapa sih yang betah main PES dengan jersey yang asal-asalan. Ujung-ujungnya pembeli PES harus menyiapkan usaha ekstra untuk membenahi itu dulu.

Dulu, sepuluh tahun lima belas tahun lalu, bagi sebagian orang, mengedit hal-hal tersebut mengasyikkan. Karena banyak kasus, pemain yang suka FIFA padahal dulu dia mainnya PES, dulu dia suka PES karena banyak waktu buat ngedit dan main Master League.

Dulu dia bisa menghabiskan waktu berjam-berjam untuk mengedit semuanya di PES, karena memang mereka punya banyak waktu dan masih sekolah.

Sekarang kondisinya berubah, kebanyakan pemain yang dulunya asyik mengedit kini sudah menjadi pekerja, punya keluarga, dan gak punya waktu sama sekali untuk mengurus hal remeh temeh begitu. Maunya punya game ya tinggal main.

Karena banyak kasus, pemain yang suka FIFA padahal dulu dia mainnya PES, dulu dia suka PES karena banyak waktu buat ngedit dan main Master League, namun sekarang golongan tersebut sudah pada kerja dan gak punya waktu buat ngedit. Sehingga maunya langsung main tanpa ribet ngepatch dan hal hal kaya gitu.

Padahal masalah lisensi kelar kalau pake ModEvo…Gak pake ribet. Iya gak Bro. Hehe

Lagi-lagi ini memang keunggulan yang tercipta karena lisensi yang mereka miliki.

SIAPA PEDULI DENGAN KEDALAMAN TAKTIK?

PES memang unggul di lapangan, benar seperti jargonnya “The Pitch is Ours”. Hampir semua aspek gameplay PES boleh menepuk dada dibanding FIFA. Boleh dibilang seluruh reviewer memberikan nilai sempurna dalam aspek gameplay.

Permainan yang lebih taktis, strategi yang lebih implemented, lebih mengakomodir simulasi sepakbola, dan hal-hal serius lainnya menjadi keunggulan PES.

Mungkin ModEvo team Guide gak laku kalau di FIFA.

Tapi siapa sangka? Gak semua orang suka dengan pendekatan ini.

Ternyata banyak orang lebih suka dengan permainan yang simpel, gak ribet gameplan ini itu, gak ribet atur strategi ini itu, dan hal hal detail lainnya.

Sering kan kita temui orang yang kalau ngatur gameplan atau strategi lebih lama daripada mainnya sendiri. Ya dipilih-pilih lah mana pemain yang lagi merah, ya digeser-geser lah posisinya di gameplan, padahal digesernya cuma 2 mili dari posisi sebelumnya.

Kalau Bro tipe gamer PES yang kaya gimana?

Ternyata gameplay, gameplan yang lebih praktis, lebih disukai oleh banyak orang. Terutama di region region Eropa.

Di FIFA juga lebih banyak tercipta gol-gol spektakuler ketimbang di PES. Gol-gol solo run, gol jarak jauh, gol salto, gol first time lebih banyak ditemukan di FIFA ketimbang di PES.

FIFA juga mengakomodir pemain yang punya jari-jari lincah. Banyaknya gerakan feint atau tipuan di FIFA lebih memacu orang untuk mengeluarkan trik yang dia bisa lakukan.

Sering kan kita lihat pemain FIFA yang goceknya udah kaya apaan tahu di youtube atau mungkin temen kita sendiri, joystick udah bener dibetot supaya triknya keluar semua.

FIFA FAIL/BUG YANG MALAH VIRAL

Sadar gak sih, setiap kali FIFA seri baru muncul pasti ada aja yang bikin FIFA Fails. Kalau kita cari di youtube dengan kata kunci tadi, akan banyak banget keluar video yang isinya bug atau kekonyolan dalam game FIFA.

Herannya, banyaknya video kaya gitu malah bukannya orang benci sama FIFA, malah jadi penasaran main FIFA untuk menemukan bug atau kelucuan serupa ketika mereka bermain.

Kerennya lagi, FIFA Fail/Bug justru malah jadi bahan yang viral di internet

PEMAIN BOLA IDOLA GUE MAIN FIFA

FIFA gak hanya popular dimainkan oleh gamer, tapi banyak juga pemain professional kelas dunia yang juga suka main FIFA, sebut aja De Bruyne, Zouma, Henderson, dan sederat nama lainnya.

FIFA juga sering ngadain Player Tournament, yang isinya adalah pemain bintang dari klub tertentu saling beradu main FIFA.

Hasil turnamennya kemudian dikemas jadi video di youtube, ujung-ujungnya fansnya makin tertarik buat mainin FIFA ketimbang PES. Kaya gini nih. Gimana, keren kan.

KAMI SUKANYA NONTON YOUTUBE! BUKAN BACA FORUM

Selain itu youtuber FIFA juga jauh lebih banyak dan terkenal ketimbang youtuber PES. Sebut aja nama nama kaya KSI, W2S, Ovvy, dan masih banyak lagi. Kehadiran youtuber ini menjadikan konten FIFA di youtube menjadi viral. Ujung-ujungnya menjadi media pemasaran yang sangat efektif buat FIFA.

Jika PES, sebaliknya, di youtube gak terlalu banyak konten menarik, paling Weedens yang biasa bikin konten keren. Sisanya gak banyak dan gak se viral FIFA.

PES lebih banyak berkembang di forum, kalau diminta sebut forum PES, akan lebih mudah dan lebih rame. Tapi ya namanya forum, isinya berkutat soal diskusi, bagaimana cara ngepatch, share patch ini itu, dan konten yang gak terlalu menarik dan kurang ringan.

Beda dengan di youtube yang kontennya ringan dan enak ditonton. Lebih lanjut baca 10 blog/forum PES terbaik menurut kami.  

ONLINE YANG (SELALU) TERHUBUNG

Hari gini game kalau ga punya fitur online biasanya akan cepet tumbang dan nilai re-playability nya rendah.

Main sendirian tentu lama-lama bosan juga, sebanyak-banyaknya temen rentalan juga jumlahnya ya segitu-gitu aja. Gak bisa ribuan juga.

Makanya perlu lawan via online, supaya bisa mengukur kemampuan di tingkat global. Gak mentok di level rukun tetangga di sekitar rentalan deket rumah.

Apalagi yang mainnya Cuma sama geng kuliah atau sekolah, waah kecil banget lingkupnya Bro. Jangan bangga kalau Cuma bisa menang lawan temen kuliah atau sekolah.

Lawan temen kuliah atau rumah aja masih kesulitan menang? Mungkin Bro perlu baca panduan dari kami supaya lebih sering menang.

FItur online baru akan bisa jalan kalau didukung infrastruktur server oleh si penyedia game, dalam ini tentu EA dan Konami.

Sekali lagi, EA memukul mundur Konami dalam segi penyediaan layanan online. Selain modenya yang lebih memikat di FIFA dengan fitur FIFA Ultimate Team (FUT), mereka juga menang kecepatan dan kemampuan server. Sepengalaman main FUT hingga kini, untuk menemukan lawan main biasanya cukup menunggu 1-3 menit.

Sedangkan PES dengan fitur myClub nya, sudahlah User interfacenya agak membingungkan. Sudah gitu kalau mau main online, susah banget dapat lawannya, sampe habis 1 cangkir kopi, belum dapat juga lawan tandingnya.

Keki Brooo.

FUT juga lebih mumpuni karena kekuatan lisensi dia akhirnya jual beli pemain adalah pemain yang memang kita kenal dalam keseharian.

Repotnya di PES, karena banyak fake player jadi kurang asyik dalam urusan mencari pemain. Sialnya lagi, karena itu adalah mode online, kita gak bisa mempatch hal tersebut.

FUT juga menerapkan pack card, ini jadi lading uang tambahan bagi FIFA. Untuk mendapatkan pemain hebat, Bro bisa membeli card yang rare atau super rare dengan harga yang lumayan. Ini bisnis jutaan dolar dari jualan kartu FUT pack. Luar biasa.

KEDENGARAN LEBIH ENAK KAN?

Komentator FIFA jauh lebih menarik ketimbang PES. Komentator di FIFA bicara lebih natural, dan lebih banyak kosakata kata. Selain itu ada perbedaan nuansa kata ketika main dengan tim kecil dengan big match sekelas El Classico.

Kerennya lagi komentator di FIFA menyesuaikan konteks tanggal, misal Bro main FIFA pas tanggal 25 Desember -1 Januari biasanya si komentator dalam game akan mengucapkan selamat natal dan tahun baru, nyesuain kondisi nyata.

Sayangnya kalau pas 1 Syawal komentator di FIFA tetep ga bisa ngucapin Mohon Maaf Lahir Batin, maklum, di FIFA gak ada fitur sidang Isbat.

Selain komentator, EA juga selalu unggul kalau soal soundtrack. Biasanya dalam satu seri, FIFA menyediakan lebih dari 40 lagu. Lagunya juga pilihan dari berbagai jenis genre, EDM, rock, Pop Rock, Hip-Hop dan lain-lan.

Selain itu EA juga pinter memilih artisnya, sebut aja Kygo, Kasabian, Two Door Cinema Club, Zedd, Major Lazer, Avicii dan sederet artis lain pernah jadi pengisi lagu di FIFA.

PES agak ketinggalan juga nih dalam selera bermusiknya, banyak seri PES yang gak dapat soundtrack bagus. Kalaupun bagus, umumnya hanya disediakan 10-12 lagu. Gak lebih. Jumlah lagu segitu diputer selama setahun jelas bosen.

Apesnya lagi, sudahlah hanya sedikit, gak jarang player PES diberi soundtrack yang asli horror model seperti ini.

Masih inget Bro?

THE JOURNEY

FIFA juga lebih jago garap fitur atau mode diluar eksibisi. Sadar gak semua orang main dengan teman atau lawan manusia secara online, FIFA menyusun mode baru yang bernama The Journey.

Mode ini bener-bener terobosan baru di game sepakbola, walaupun kalau di game olahraga sudah ada yang lebih dulu, seperti Spike Lee Joint di game NBA 2K16.  

Intinya di mode ini, Bro serasa menjadi pemain sepakbola beneran. Ada ceritanya, ada pemilihan keputusan, dan pengembangan kemampuan yang khusus layaknya main game RPG.

Bagusnya lagi, EA garap mode ini dengan niat dan serius, melibatkan banyak pemain professional untuk ambil bagian.

PES? PES punya sih mode yang agak mirip, yaitu Become A Legend. Namun mode ini  terlalu generic dan gak ada ceritanya. Gak sebanding jika disandingkan dengan The Journeynya FIFA.

EMANSIPASI WANITA

FIFA menjadi satu-satunya game sepakbola pertama yang memasukkan sepakbola perempuan ke game. Sambutannya tentu positif, karena kita tahu, pemain sepakbola professional wanita juga gak kalah jago sama yang pria. Cek kalau gak percaya.

FIFA menjemput momentum Women World Cup 2015 dengan memasukkan timnas wanita ke FIFA16. Mungkin gak signifikan, tapi tambahan ini menjadi fitur tambahan dan salah satu daya jual FIFA ke (mungkin) gamer wanita.

PADA AKHIRNYA…

Slogan PES yang diusung beberapa tahun belakangan adalah “The Pitch is Ours”, lapangan adalah milik kita.

Slogan ini dimaksudkan untuk menyasar gamer yang mencari game sepakbola terbaik. Namun kenyataannya, slogan itu terdengar menyedihkan. Menunjukkan fakta bahwa Konami hanya bisa menang di lapangan, tapi gak di tempat lain.

Ingat, pertarungan game terbaik menuntut hal yang lebih komprehensif, dan menyeluruh. Semua juga tahu kalau game bola yang paling penting memang gimana mainnya, tapi gak hanya itu yang harus diperhatikan.

Akhirnya seperti yang kita tahu, PES banyak yang bilang(reviewer game professional) menang secara produk dalam hal rating dan penghargaan, tapi dalam kenyataannya kalah di medan perang.

Kalah segala-galanya dari FIFA dalam hal popularitas, yang ujung-ujungnya kalah dalam hal penjualan.

(BAGIAN INI PENDAPAT PRIBADI PENULIS)Secara SUBJEKTIF saya lebih enjoy memainkan PES ketimbang FIFA, setidaknya untuk seri PES 2017, karena saya gak terlalu peduli sama fitur-fitur lain yang dimiliki oleh FIFA. Bagi saya yang penting mana yang paling enjoy dimainkan. 

Tentu, setelah ini juga pertarungan antara FIFA vs PES akan masih terus berlanjut. Tetap akan banyak yang membanggakan gamenya masing-masing. FIFA Fanboy PES Fanboy, hal itu biasa dalam hal apapun di era internet seperti sekarang.  Sepanjang gak mengganggu siapapun sah-sah aja berkomentar. Paling penting, luaskan pandangan.

Tentu banyak juga dari kita, yang mungkin pernah berpikiran dan berandai-andai,  jika FIFA dan PES bergabung dan membuat satu game sepakbola gabungan dua kekuatan tersebut. Pasti luar biasa hasilnya.

Tapi:

Rasanya mengharapkan itu kaya mimpi di siang bolong.

Prosentasi Bro, iya kamu Bro, yang baca analisis ini sampe habis, menjadi orang sukses dalam bidang Bro masing-masing rasanya lebih besar daripada mengharapkan FIFA dan PES bersatu.

Biarkan perbedaan ini menjadi keunggulan dan keuntungan buat kita, para pecinta sepakbola yang juga suka bermain game sepakbola, memiliki pengalaman yang bisa dibagikan kepada anak cucu kita ketika mereka memilih game sepak bola di masanya.

Aamiin.

ModEvo #PlayBetter

Sumber

http://www.football-king.com/articles/fifa-17-and-pes-17-sales-numbers/

http://www.vgchartz.com/game/117272/fifa-17/

https://www.play-mag.co.uk/features/why-fifa-is-still-better-than-pes/

http://kotaku.com/fifa-17-vs-pes-2017-which-is-better-1786985038

http://aperturegames.com/1329/kus-fifa-popular-compared-pes/

http://kotaku.com/check-out-these-dumbass-review-restrictions-1732923646

http://www.ign.com/articles/2016/09/22/fifa-17-review

http://www.ign.com/articles/2016/09/13/pes-2017-review-in-progress

Analisis Mendalam: Pertarungan Tiada Habis, FIFA vs PES. Siapa Terbaik? Siapa Pemenangnya?
Tag pada:            

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *